Implementasi Pembacaan Surat As-Syamsy, Al-lail, Al-Falaq Dan An-Nas Melalui Pendekatan Etnografi dan Pendekatan Sosiologi Pengetahuan Pemikiran Karl Mannheim
“Implementasi Pembacaan Surat As-Syamsy, Al-lail, Al-Falaq Dan An-Nas Melalui Pendekatan Etnografi dan Pendekatan Sosiologi Pengetahuan Pemikiran Karl Mannheim
( Kajian Living Al-quran di Pondok Pesantren Al-Masyhad Manbaul Falah Pekalongan)”
MAKALAH
Diajukan untuk Memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester (UAS)
Dosen Pengampu : Syamsul Bakhri, M. Sos
Oleh:
Monica Trywidyaningrum
NIM 3118034
PRODI ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR
FAKULTAS USHULUDIN ADAB DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN 2021
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Bagi umat Islam, al-Qur’an merupakan kitab suci yang menjadi pedoman dan petunjuk dalam kehidupan. Al-Qur’an dibaca, dipelajari, dikaji, diyakini dan diamalkan untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan sekaligus kunci dalam mendapatkan kebahagiaan akhirat. Itulah sebabnya al-Qur’an dijadikan mitra dialog dalam menyelesaikan problem kehidupan kaum muslimin. Berinteraksi dengan al-Qur’an merupakan salah satu pengalaman berharga seorang muslim. Pengalaman tersebut dapat berupa interaksi lisan, tulisan, maupun perbuatan, baik berupa pemikiran, pengalaman, emosional, maupun spiritual. Pengalaman berinteraksi dengan al-Qur’an menghasilkan pemahaman dan penghayatan terhadap ayat-ayat tertentu. Pemahaman dan penghayatan individual yang diungkapkan dan dikomunikasikan secara verbal maupun dalam bentuk tindakan tersebut dapat mempengaruhi individu lain sehingga dapat membentuk kesadaran bersama, dan dalam taraf tertentu melahirkan tindakan-tindakan kolektif dan terorganisasi.
Pengalaman berinteraksi dengan al-Qur’an ini meliputi berbagai macam kegiatan, misalnya membaca al-Qur’an, memahami dan menafsirkan al-Qur’an Seiring perkembangan zaman, kajian mengenai al-Qur’an mengalami pengembangan wilayah kajian, dari kajian teks kepada kajian sosial-budaya, yang kemudian sering disebut dengan istilah living Qur’an. M. Mansur berpendapat bahwa living Qur’an bermula dari fenomena al-Qur’an dalam kehidupan masyarakat sehari-hari dengan kata lain Qur’an in everyday life, yakni makna dan fungsi al-Qur’an yang riil dipahami dan dialami masyarakat muslim. Fenomena masyarakat dengan al-Qur’an misalnya fenomena sosial tekait dengan pelajaran membaca al-Qur’an, fenomena penulisan bagian-bagian tertentu dari al-Qur’an, pemenggalan ayat- ayat al-Qur’an yang kemudian oleh masyarakat dijadikan wirid, pengobatan, do’a-do’a dan sebagainya yang terjadi pada masyarakat muslim tertentu namun tidak di masyarakat muslim lainya.
Fenomena living Qur’an merupakan bentuk respon sosial suatu komunitas atau masyarakat tertentu dalam meresepsi kehadiran al-Qur’an. Dalam kaitan ini, sebagai contoh adalah Tradisi Pembacaan Surat As-Syamsy, Al-lail, Al-Falaq Dan An-Nas (Kajian Living Al-quran di Pondok Pesantren Al-Masyhad Manbaul Falah Pekalongan). Pondok pesantren ini termasuk pesantren salaf yang masih melestarikan pengajaran kitab islam klasik kepada santrinya (kitab kuning), selain itu santri juga dibebaskan mengenyam pendidikan umum, bahkan mayoritas santrinya mondok sekaligus sekolah umum mulai dari jenjang smp hingga kuliah, meskipun semuanya diluar pesantren atau tidak satu yayasan dengan pesantren.
Memiliki beberapa kelebihan dibanding dengan pondok-pondok lainnya diantaranya: sistem pembinaan menggunakan sistem pengasuhan keluarga, Tradisi Pembacaan Surat As-Syamsy, Al-lail, Al-Falaq Dan An-Nas merupakan kegiatan ibadah amaliah dengan bertilawah yang dilakukan secara berjama’ah yang bertujuan mengharapkan barakah dari bacaan tersebut. Penerapannya adalah dengan diawali membaca surat as-syamsy sampai surat an-nas, dan ditutup dengan surat al-asr. Pembacaan surat-surat pilihan terlaksana dan diikuti oleh seluruh para santri. Berangkat dari fenomena ini, penulis tertarik untuk meneliti tentang “Implementasi Pembacaan Surat As-Syamsy Al-lail Al-Falaq Dan An-Nas ( Kajian Living Al-quran di Pondok Pesantren Al-Masyhad Manbaul Falah Pekalongan)” secara mendalam dan terdorong untuk lebih tahu tentang dalil, penerapan dan makna tradisi pembacaan surat Surat As-Syamsy, Al-lail, Al-Falaq Dan An-Nas yang diterapkan di Pondok Pesantren Al-Masyhad Manbaul Falah Pekalongan. Bagi penulis, fenomena ini menarik untuk dikaji dan diteliti sebagai model alternatif bagi suatu komunitas sosial dan lembaga pendidikan untuk selalu berinteraksi dan bergaul dengan al-Qur’an. Sehingga al-Qur’an menjadi hidup di dalam masyarakat yang disebut dengan living al-Qur’an (al-Qur’an al Hayy) atau al-Qur’an in every day life.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat diambil pokok-pokok rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apa dalil dan sejarah yang mendasari tradisi pembacaan surat Surat As-Symsy, Al-Lail, Al-Falaq dan An-nas ?
2. Apa pendekatam sosiologi yang digunakan dalam penerapan tradisi pembacaan surat Surat As-Symsy Al-Lail Al-Falaq dan An-nas ?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin penulis capai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui dalil dan sejarah yang mendasari tradisi pembacaan surat Surat As-Symsy, Al-Lail Al-Falaq dan An-nas sebagai pembacaan doa pengajian?
2. Mengetahui dan menjelaskan pendekatan sosiologi apa yang digunakan dalam penerapan tradisi pembacaan surat Surat As-Symsy, Al-Lail, Al-Falaq dan An-nas sebagai pembacaan doa ?
BAB II
PEMBAHASAN
Sejarah Mulainya Tradisi Pembacaan Surat As-Syamsy Al-lail Al-Falaq dan An-Nas (di Pondok Pesantren Al-Masyhad Manbaul Falah Pekalongan)
Nabi Muhammad SAW. lebih senang menyibukkan diri untuk memberikan perhatian terhadap al-Qur’an., baik dalam shalat, tahajud, keseharian dan keterbukaannya, keberadaannya di rumah atau dalam perjalanannya, kesendirian dan kebersamaannya dengan para sahabat, kesusahan dan kemudahannya maupun dalam kegembiraan dan kesedihan beliau. Muhammad bin Muhammad Abu Syuhbah, Etika Membaca dan Mempelajari al-Qur’an al-Karim, terj. Taufikqurrahman ( Bandung: Pustaka Setia, 2003), Salah satu kesibukan terhadap al-Qur’an adalah membacanya. Di kalangan masyarakat pembacaan al-Qur’an sudah banyak yang mengamalkannya bahkan menjadi suatu tradisi. Di Pondok Pesantren Al-Masyhad Manbaul Falah Pekalongan juga menerapkan tradisi pembacaan al-Qur’an yaitu surat As-Syamsy Al-lail Al-Falaq dan An-Nas kepada para santri dan Asatidzah. Secara singkat kegiatan tradisi pembacaan surat As-Syamsy Al-lail Al-Falaq dan An-Nas di Pondok Pesantren Al-Masyhad Manbaul Falah Pekalongan, hal ini bermula dari harapan pengurus agar santri di tengah arus pergaulan saat ini, mereka terbentengi dengan karakter akhlaqul Qur’aniyah di manapun berada, karena para santri dalam sehari tidak penuh berada di pondok. Aktivitas pagi para santri adalah sekolah yang sekolah mereka berada di luar area pondok dan mengingat bahwa mereka ketika berangkat dan pulang sekolah melewati tempat keramaian salah satunya stadion yang letaknya tidak jauh dari pondok. Dalam majlis rapat para pengurus, muncul beberapa pendapat tentang media apa yang tepat bagi santri untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketauhidan di antaranya pembacaan surat As-Syamsy Al-lail Al-Falaq dan An-Nasbeserta tadabbur ayatnya. Akhirnya dewan pengurus memutuskan untuk memilih tradisi pembacaan surat As-Syamsy Al-lail Al-Falaq dan An-Nas sebagai media yang paling efektif. Kegiatan pembacaaan suratAs-Syamsy Al-lail Al-Falaq dan an-nas bersifat wajib bagi para santri dan bersifat sunnah bagi para asatidzdan dilaksanakan secara rutin hingga sekarang.
Dalil yang digunakan PP Al-Masyhad Manbaul Falah Pekalongan Dalam Melaksanakan Tradisi Pembacaan surat As-Syamsy Al-lail Al-Falaq dan An-Nas
Secara logika segala bentuk amaliah apapun tentu memiliki landasan teori atau dalil dan tujuan yang mendasari terlaksananya kegiatan tersebut. Begitu halnya pembacaan surat As-Syamsy Al-lail Al-Falaq dan An-Nas yang dilakukan di Pondok Pesantren Al-Masyhad Manbaul Falah Pekalongan. Pembacaan surat As-Syamsy Al-lail Al-Falaq dan An-Nas merupakan suatu kegiatan positif dimana seorang hamba benar-benar beriman kepada Allah dengan menyibukkan diri untuk membaca al-Qur’an maka seorang hamba akan beruntung karena mendapatkan barakah dari Allah Swt”. Dalam hal ini berpegang pada firman Allah surat al-Baqarah ayat 121.
2. Pendekatan Etnografi yang Digunakan dalam Penerapan Tradisi Pembacaan Surat As-Symsy, Al-Lail, Al-Falaq dan An-nas sebagai Pembacaan Doa
Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian lapangan (field research), yakni penelitian yang berbasis data-data lapangan terkait dengan subjek penelitian ini. Metode yang digunakan penulis adalah metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan etnografi. Pendekatan etnografi adalah pendekatan yang dilakukan untuk mendeskripsikan budaya atau aspek-aspeknya. Etnografi merupakan suatu metode penelitian ilmu sosial. Penelitian ini sangat percaya pada ketertutupan, pengalaman pribadi,dan partisipasi yang mungkin, tidak hanya pengamatan, oleh para peneliti yang terlatih dalam seni etnografi. Para etnografer ini sering bekerja dalam tim yang multidisipliner. Di mana titik fokus penelitiannya dapat meliputi studi intensif budaya dan bahasa, bidang atau domain tunggal, ataupun gabungan metode historis, observasi, dan wawancara.
Pada awalnya etnografi berakar pada bidang antropologi dan sosiologi. Namun para praktisi dewasa ini melaksanakan penelitian etnografi dalam segala bentuk. Ahli etnografi melakukan studi persekolahan, kesehatan masyarakat, perkembangan pedesaan dan perkotaan, konsumen dan barang konsumsi, serta arena manusia manapun. Perlu dicatat bahwa penelitian etnografi ini juga dapat didekati dari titik pandang preservasi seni dan kebudayaan, dan lebih sebagai suatu usaha deskriptif daripada usaha analitis. Biasanya para peneliti etnografi memfokuskan penelitiannya pada suatu masyarakat, namun tidak selalu secara geografis saja, melainkan dapat juga memerhatikan pekerjaan, pangangguran, dan aspek masyarakat lainnya. Beserta pemilihan informan yang mengetahui dan memiliki suatu pandangan atau pendapat tentang berbagai kegiatan masyarakat. Secara operasional pendekatan etnografi ini, penulis gunakan dalam penelitian untuk mengungkapkan dan menemukan bagaimana pandangan dan pemaknaan dari para pelaku tradisi pembacaan surat as-syams, al-lail, al-falaq an-nas yang mencakup para santri PP Al-Masyhad Manbaul Falah, para pengurus dan pengasuh PP Al-Masyhad Manbaul Falah Pekalongan.
Pendekatan Sosiologi Pengetahuan Pemikiran Karl Mannheim
Oleh karena itu, usaha untuk memahami pemikiran seorang tokoh tidak akan pernah sempurna tanpa memahami latar belakang sosial yang berada di Balik pemikiran tersebut. Karl Mannheim merupakan sosiolog pengetahuan yang telah memberikan sumbangan teoritis yang sangat berharga dalam ilmu-ilmu sosial. Karl Mannheim adalah tokoh yang dianggap sebagai penggagas teori sosiologi pengetauan. Teori-teorinya tentang relasi pemikiran, gagasan, dan bangunan keilmuwan seseorang dengan realitas sosial yang mengitarinya, dapat dijadikan sebagai “pisau” analisis dalam mengkaji pemikiran seorang tokoh secara kritis, tidak terkecuali pemikiran Karl Mannheim sendiri. Menurutnya, persepsi yang disusun dan diorganisasikan dalam formulasi ilmiah yang merupakan syarat kemunculan pengetahuan tergantung pada kerangka rujukan (frames of reference) yang tersedia pada momen historis tertentu. Karena itu, konsep, diskursus, dan arah tujuan pengetahuan tergantung pada situasi sosio-historis anggota kelompok intelektual yang bertanggung jawab atas perkembangan sebuah disiplin pengetahuan. Usaha untuk menemukan ide-ide yang tidak berubah dan absolut merupakan suatu hal yang amat diragukan manfaatnya. Sumbangan terpenting dari pemikiran Mannheim adalah bahwa tak ada pengetahuan yang lahir dari ruang hampa, melainkan ia dikonstruksi oleh situasi sosial yang mengitarinya.
Teori-teorinya tentang relasi pemikiran, gagasan, dan bangunan keilmuwan seseorang dengan realitas sosial yang mengitarinya, dapat dijadikan sebagai seorang tokoh secara kritis, tidak terkecuali pemikiran Karl Mannheim sendiri. Artinya, teori sosiologi pengetahuan Mannheim hanya dapat dipahami secara utuh melalui pemahaman terhadap situasi sosial yang melatari lahirnya pemikiran tersebut. Dalam studi Islam, teori sosiologi pengetahuan Mannheim akan dapat membantu dalam memahami lahirnya beragam pemikiran keagamaan, meski berangkat dari sumber normatif yang sama (Alquran dan Hadis). Melalui pendekatan sosiologi pengetahuan ini, perbedaan pendapat dan pemikiran keagamaan dapat dipahami sebagai implikasi dari perbedaan setting social yang melatarinya.
Dengan demikian, dalam teori sosiologi pengetahuan, weltanschauung (wordview) memainkan peran metodologis yang sangat penting. Mannheim membedakan dua konsep weltanschauung. Pertama, weltanschauung rasional, semacam konstruk teoritis yang dapat diakses dalam bentuk yang terstruktur dan proposisional logis. Konsep pandangan dunia ini dapat dianggap bersifat koeksensif dengan ideologi dan berarti keyakinan tersebut: (a) diterima secara luas di antara anggota kelompok; (b) elemen-elemennya terhubung secara sistematis; (c) penting bagi skema konseptual para agen (para agen tidak mudah menyerah); (d) sangat mempengaruhi perilaku agen; dan (e) dan merupakan pertanyaan sentral metafisika dan kehidupan manusia secara umum.
Kedua, weltanschauung irrasional, bukan berarti tidak masuk akal, karena suatu konsep pandangan dunia yang pada dasarnya tidak masuk akal akan membuat diskusi teoritis tidak mungkin dari fenomena tersebut, dan dengan demikian akan menjadi tidak berguna secara metodologis. Oleh karena itu, istilah yang lebih tepat adalah 'rasionalistik' artinya bahwa pandangan dunia bukanlah rasional dan tidak rasional, karena sifat kategori rasionalitas tidak dapat diterapkan padanya.(Demeter, 2012, p. 47) Mannheim berpandangan bahwa, weltanschauung berada di luar pemikiran tetapi bukan di luar nalar interpretatif, itu bukan produk pemikiran, tetapi dapat diakses secara rasional, setidaknya sampai taraf adalah untuk membuat totalitas pandangan dunia yang tidak terstruktur yang dapat diakses dari dokumennya, yaitu untuk membuat pandangan dunia secara rasional dan secara teoritis dapat diakses. Pertanyaan krusialnya adalah bagaimana totalitas yang kita sebut roh Weltanschauung dari suatu zaman, dapat disaring dari berbagai objek zaman itu,dan bagaimana kita dapat memberikan laporan teoritis tentang hal tersebut.(Demeter, 2012, p. 48)
Makna dari pembacaan tersebut berdasar pada teori sosiologi pengetahuan Karl Mannheim, yakni makna obyektif sebagai kewajiban yang telah ditetapkan, makna ekspresif yang berbentuk pembelajaran, fadilah dan keutamaan, sedangkan makna documenter sebagai satu kebudayaan yang menyeluruh. Adapun fungsi dari pembacaan tersebut jika merujuk pada teori fungsionalisme sosial Durkheim, maka menunjukkan makna solidaritas sosial baik solidaitas sosial organik maupun solidaritas sosial mekanik.
PENUTUP
KESIMPULAN
Fenomena living Qur’an merupakan bentuk respon sosial suatu komunitas atau masyarakat tertentu dalam meresepsi kehadiran al-Qur’an. Dalam kaitan ini, sebagai contoh adalah Tradisi Pembacaan Surat As-Syamsy, Al-lail, Al-Falaq Dan An-Nas (Kajian Living Al-quran di Pondok Pesantren Al-Masyhad Manbaul Falah Pekalongan). Pondok pesantren ini termasuk pesantren salaf yang masih melestarikan pengajaran kitab islam klasik kepada santrinya (kitab kuning), selain itu santri juga dibebaskan mengenyam pendidikan umum, bahkan mayoritas santrinya mondok sekaligus sekolah umum mulai dari jenjang smp hingga kuliah, meskipun semuanya diluar pesantren atau tidak satu yayasan dengan pesantren.
Metode yang digunakan penulis adalah metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan etnografi. Pendekatan etnografi adalah pendekatan yang dilakukan untuk mendeskripsikan budaya atau aspek-aspeknya. Etnografi merupakan suatu metode penelitian ilmu sosial. Penelitian ini sangat percaya pada ketertutupan, pengalaman pribadi,dan partisipasi yang mungkin, tidak hanya pengamatan, oleh para peneliti yang terlatih dalam seni etnografi. Secara operasional pendekatan etnografi ini, penulis gunakan dalam penelitian untuk mengungkapkan dan menemukan bagaimana pandangan dan pemaknaan dari para pelaku tradisi pembacaan surat as-syams, al-lail, al-falaq an-nas yang mencakup para santri PP Al-Masyhad Manbaul Falah, para pengurus dan pengasuh PP Al-Masyhad Manbaul Falah Pekalongan.
Makna dari pembacaan tersebut berdasar pada teori sosiologi pengetahuan Karl Mannheim, yakni makna obyektif sebagai kewajiban yang telah ditetapkan, makna ekspresif yang berbentuk pembelajaran, fadilah dan keutamaan, sedangkan makna documenter sebagai satu kebudayaan yang menyeluruh. Adapun fungsi dari pembacaan tersebut jika merujuk pada teori fungsionalisme sosial Durkheim, maka menunjukkan makna solidaritas sosial baik solidaitas sosial organik maupun solidaritas sosial mekanik.
DAFTAR PUSTAKA
Mansur, Muhammad.(2007)” Living Qur’an dalam lintasan sejarah studi al-Qur’an”, dalam Metodologi Penelitian Living Qur’an dan Hadis, Syahiron Syamsuddin (ed.)Yogyakarta: TH Press,
Musthofah, Ahmad Zainal.(2015)” Tradisi Pembacaan al-Qur’an Surat-surat Pilihan ( Kajian Living Qur’an di PP. Manbaul Hikam, Sidoarjo).” Skripsi Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Yogyakarta
Hamka, (2020). SOSIOLOGI PENGETAHUAN: TELAAH ATAS PEMIKIRAN KARL MANNHEIM, dalam jurnal Scolae: Journal of Pedagogy, Volume 3, Number 1
Komentar
Posting Komentar